Sabtu, 04 Desember 2010

Teori Perilaku Pertukaran

Dalam upaya menjelaskan fenomena sosial, George Homans mengembangkan teori pertukaran berdasarkan prinsip-prinsip transaksi ekonomi, yaitu manusia menawarkan jasa/barang tertentu dengan harapan memperoleh imbalan jasa/barang lain. Interaksi sosial pun menggunakan prinsip resiprositas se- perti dalam transaksi ekonomi. Artinya, individu melakukan suatu tindakan demi mendapat imbalan atau justru untuk menghindari hukuman. Perilaku individu diarahkan oleh norma sosial. Konformitas terhadap norma kelompok akan mendapat imbalan/hadiah, sedangkan penyelewengan apalagi pemberontakan terhadap norma kelompok akan menerima hukuman. Teori Homans ini dinamakan teori perilaku pertukaran (Poloma, 1987). Bagi Homans, tujuan memperbesar keuntungan atau imbalan dan seluruh fenomena sosial dapat dianalisis sebagai bentuk-bentuk pertukaran.

Homans menggunakan teori behaviorism dari ahli psikologi Skinner dalam usahanya menjelaskan proses pertukaran dalam perilaku individu dan kelompok. Ia meminjam istilah-istilah yang digunakan oleh Skinner sehubungan dengan perubahan perilaku, yaitu sukses, stimulus, nilai, kekurangan versus kejenuhan, dan persetujuan versus agresi, dan dibuatnya proposisi sebagai berikut.

a. Sukses. Makin sering suatu tindakan menghasilkan imbalan/hadiah, akan makin kuat kecenderungan individu untuk melakukan tindakan tersebut. Keberhasilan memperkuat suatu tindakan. Murid/mahasiswa yang mendapat nilai baik dalam ulangan/ujiannya, jika ia belajar dengan baik akan lebih semangat dalam belajar sebelum menghadapi ulangan/ujian berikutnya.

b. Stimulus. Jika di masa lalu tindakan individu sebagai tanggapan dari suatu stimulus tertentu mendapat imbalan positif, ketika stimulus serupa timbul lagi, individu cenderung mengulangi tindakan yang sama. Pengalaman masa lalu penting bagi penentuan perilaku individu. Anak yang diberi hadiah karena ia mau diperiksa giginya oleh dokter gigi, akan bersedia pergi lagi ke dokter gigi.

c. Nilai. Makin tinggi harga/nilai suatu hasil tindakan bagi individu, makin besar kemungkinan individu tersebut melakukannya. Makin tinggi ni- lai gelar dokter bagi seorang individu, makin besar pula motivasi untuk studi dan mencapai gelar dokter.

d. Kekurangan—kejenuhan. Makin sering individu menerima imbalan tertentu, makin kecil makna imbalan tersebut baginya. Sebaliknya, makin jarang imbalan diperoleh, makin besar makna imbalan itu. Proposisi ini menunjukkan relativitas nilai suatu imbalan sehubungan dengan kemudahan untuk mencapai imbalan tersebut.

e. Persetujuan—agresi. Apabila seseorang tidak menerima imbalan yang diharapkan atau ia menerima hukuman di luar harapannya, ia cenderung bertindak agresif. Jika tindakan individu diberi imbalan seperti yang diharapkan atau ia tidak dihukum karenanya, ia akan setuju untuk melakukan tindakan tersebut. Unsur emosi terlihat jelas pada saat individu marah karena merasa diperlakukan tidak adil dan akan senang bila harapannya terpenuhi.

Proposisi yang diajukan oleh Homans tersebut berkaitan dan merupakan suatu kesatuan. Artinya, setiap individu menentukan tindakannya dengan mempertimbangkan semua faktor yang dikemukakan dalam proposisi terse- but. Hubungan dan kedudukan manusia dalam masyarakat harus terjalin secara adil. Dalam proses aksi sosial, manusia mengharapkan untuk memperoleh imbalan yang sesuai dengan pengorbanan atau biaya yang telah dikeluarkannya. Umumnya, manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang sejajar dengannya, bukan membandingkan dirinya dengan orang yang sangat berbeda dengannya. Ia juga membandingkan dirinya dengan orang yang terlibat dalam proses pertukaran dengannya.


Pustaka
Sosiologi Keperawatan Oleh Dra. Noorkasiani, M.Kes, Heryati, S.Kp, M.Kes, & Rita Ismail, S.Kp, MKM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar