Senin, 12 Januari 2015

Bagaimana mengetahui Anda terkena Rosacea

Rosacea adalah kondisi inflamasi kronis pada kulit yang sering keliru terhadap penyakit jerawat dewasa. Terkadang hilang sendiri jika tidak diobati, namun rosacea dapat menjadi kondisi kulit yang menodai wajah dengan konsekuensi psikologis seperti depresi.

Tanda Rosacea

Dengan gejala yang meliputi peradangan terutama pada wajah yang mempengaruhi pembuluh darah dan kelenjar minyak, rosacea biasanya terjadi pada orang dengan warna kulit yang merata dan berumur 25 sampai 65 tahun dan puncak di antara orang dewasa sekitar berusia 40 sampai 50. Tiga kali lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.


Tidak seperti jerawat, yang lebih umum di kalangan pemuda, rosacea tidak dimulai sebagai komedo. Adanya daerah lain yang terlibat akan dampak rosacea adalah mata dan eksaserbasi suhu tubuh.

Pasien yang menderita rosacea paling sering mengeluh kemerahan dan ruam, banyak dari mereka awalnya mengabaikan kondisi ini karena mereka mengasumsikan kemerahan ini akibat paparan cahaya yang normal.

Dilihat dari mata dermatologis, bagaimanapun, pada penyakit ini terjadi pelebaran pembuluh darah pada wajah. Dan pada stadium lanjut terjadi benjolan merah kecil dan komedo putih dapat muncul. Pada tahap lanjut lagi akan dapat menyebabkan hidung bulat atau membesar.

Penampilan berhidung merah ini sering (tidak sepenuhnya salah) terkait dengan konsumsi alkohol yang berlebihan. Bahkan, alkohol dapat memperburuk rosacea dan meningkatkan peradangan kulit dengan melebarkan pembuluh darah sehingga meningkatkan kemerahan. Faktor memperburuk lainnya termasuk makanan pedas atau suhu panas, suhu lingkungan panas dan temperatur yang lebih dingin serta situasi stres. Bahkan kopi panas atau teh bisa membuat rosacea tambah buruk.

Pada beberapa individu, rosacea juga mempengaruhi mata - kondisi ini dikenal sebagai Ocular Rosacea - membuat mata terasa berpasir, gatal, terbakar dan bahkan sensitif terhadap cahaya. Peradangan pada pinggir bulu mata dapat terjadi, serta konjungtivitis yang menyerupai infeksi.

Pengobatan Rosacea

Sayangnya, rosacea tidak dapat disembuhkan, ada cara untuk mengurangi ketidaknyamanan yang disebabkan oleh kondisi ini. Mengobati rosacea dimulai dengan penjelasan tentang kondisi kronisitas yang terjadi, dan kontrol dengan para ahli adalah kuncinya.

Pertama, menghindari faktor-faktor yang memperburuk seperti yang telah disebutkan di atas adalah sangat penting. Menggunakan pembersih wajah yang lembut dan pelembab juga harus dipertimbangkan.

Sebuah resep pengobatan yang melibatkan agen antibiotik topikal biasanya memberikan hasil terbaik. Agen ini, biasanya dengan metronidazol sebagai gel atau krim dasar, tidak membunuh bakteri, yang dapat bertindak sebagai mekanisme anti-inflamasi.

Antibiotik oral khusus diberikan untuk membantu mengatasi peradangan dan mengurangi kemerahan, jerawat, dan membantu memperbaiki kondisi mata yang terkena. Antibiotik ssejenis tetrasiklin yang paling sering digunakan. Doxycycline dosis rendah paling menjanjikan dalam pengobatan oral dengan mengurangi tanda-tanda dan gejala sementara tapi tidak menimbulkan resistensi antibiotik pada kulit.

Resep agen topikal anti kemerahan terbaru juga dapat digunakan setiap hari untuk meningkatkan penampilan kosmetik dari kondisi tersebut. Seperti pengobatan masalah kesehatan kulit lainnya, ketika datang untuk mengatasi rosacea, itu semua dimulai dengan mengkonsultasikannya dengan dokter spesialis kulit.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Uji Diagnostik Berbagai Penyakit

Uji diagnostik minimal dilakukan untuk 3 tujuan berikut.
1. Untuk mendeteksi penyakit.
2. Untuk memperkuat kondisi sebenarnya.
3. Untuk menyingkirkan dugaan adanya penyakit.

1. Uji diagnostik untuk mendeteksi penyakit.
Uji capis bertujuan mendeteksi penyakit pada sekelompok orang yang tampak sehat. Misalnya, uji tapis penyakit hipertensi terhadap penduduk suatu daerah berumur 35 tahun ke atas yang dilakukan oleh Hart IT di Inggris. Dalam uji tapis ini, Hart menemukan tekanan darah sistolik 170-180 tanpa gejala dan keluhan.

2. Uji diagnostik untuk memperkuat kondisi sebenarnya.
Hal ini dilakukan bila kita telah menduga bahwa seseorang menderita suatu penyakit tertentu lalu dilakukan pemeriksaan untuk memperkuat dugaan tersebut, misalnya pada penderita yang diduga menderita kanker paru-paru dilakukan pemeriksaan bronkoskopi disertai pemeriksaan mikroskopis dari hasil biopsi jaringan untuk memperkuat dugaan adanya kanker paru-paru.

Contoh lain, seseorang dengan melena diduga menderita Ca gaster lalu dilakukan pemeriksaan radiologis dan endoskopi dan dibiopsi unruk pemeriksaan patologi anatomi dengan maksud memperkuat dugaan tersebut.

3. Uji diagnostik untuk menyingkirkan dugaan adanya penyakit.
Cara ini merupakan kebalikan dari memperkuat dugaan adanya penyakit yang berarti untuk menyingkirkan dugaan adanya penyakit. Misalnya, pada seseorang yang diduga menderita Ca serviks dilakukan Pap smear dengan hasil negatif maka pemeriksaan tersebut dapat menyingkirkan dugaan terhadap Ca serviks. Pada contoh tentang dugaan adanya penyakit kanker paru-paru dapat juga digunakan untuk menyingkirkan dugaan tersebut bila hasil pemeriksaan bronkoskopi dan PA tidak menunjang.

Untuk mendeteksi penyakit atau untuk menyingkirkan dugaan adanya penyakit dibutuhkan alat uji diagnostik dengan tingkat sensitivitas yang tinggi. Sebaliknya, pada uji diagnostik yang digunakan untuk memperkuat dugaan adanya penyakit dibutuhkan pemeriksaan dengan spesifisitas yang tinggi.

Prevalensi Penyakit Hipertensi

Tekanan darah (TD) didistribusikan terus menerus. Insidensi terjadinya komplikasi berbanding lurus dengan TD. Jadi tidak ada delinisi absolut untuk hipertensi. Terapi biasanya hennanfaat untuk TD > 140/90 mmHg yang menetap.

Meningkat dengan bertambahnya usia. Prevalensi hipertensi ringan sebesar 2% pada usia 25 tahun atau kurang, meningkat menjadi 25% pada usia 50 dan 50% pada usia 70 tahun.

Sabtu, 25 Desember 2010

Faktor Penyebab dan Jenis Diare

a. Penyebab Diare
Diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan, dan faktor psikologis.

Faktor Infeksi
Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang sebagai berikut.
1. Infeksi bakteri oleh kuman E.coli. Salmonella, Vibrio cholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik (memanfaatkan kesempatan ketika kondisi tubuh lemah) seperti pseudomonas.
2. Infeksi basil (disentri).
3. Infeksi virus enterovirus dan adenovirus.
4. Infeksi parasit oleh cacing (askaris).
5. Infeksi jamur (candidiasis)
6. Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radang tenggorokan.
7. Keracunan makanan.

Faktor Malabsorpsi
1. Malabsorpsi karbohidrat. Pada bayi, kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula menyebabkan diare. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, sakit di daerah perut. Jika sering terkena diare ini, pertumbuhan anak akan terganggu.

2. Malabsorpsi lemak. Dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat jadi muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. Gejalanya adalah tinja mengandung lemak.

- Faktor Makanan
Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (sayuran), dan kurang matang.

- Faktor Psikologis
Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak, dapat menyebabkan diare kronis.
b. Jenis Diare

- Diare Akut
Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu tetapi gejalanya dapat berat. Penyebabnya sebagai berikut.
1. Gangguan jasad renik atau bakteri yang masuk ke dalam usus halus setelah melewati berbagai rintangan asam lambung.
2. Jasad renik yang berkembang pesat di dalam usus halus.
3. Racun yang dikeluarkan oleh bakteri.
4. Kelebihan cairan usus akibat racun.

Diare Kronis atau Menahun atau Persisten
Pada diare menahun (kronis), kejadiannya lebih kompleks. Berikut beberapa faktor yang menimbulkannya, terutama jika sering berulang pada anak.
1. Gangguan bakteri, jamur, dan parasit.
2. Malabsorpsi kalori.
3. Malabsorpsi lemak.


Daftar Pustaka
- Mengatasi Diare & Keracunan pada Balita Oleh dr. M.C. Widjaja

Selasa, 14 Desember 2010

Kolesistitis (Penyakit Batu Empedu)

Hingga dekade ke-6, 20% wanita dan 10% pria menderita batu empedu dan prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia, walaupun umumnya selalu pada wanita. Dalam masyarakat Barat, batu yang terbanyak ditemukan adalah batu kolesterol atau campuran kolesterol-kalsium bilirubin. Patogenesisnya tidak seluruhnya dimengerti, namun faktor-faktor yang dapat membentuk empedu litogenik mencakup peningkatan kandungan kolesterol, berkurangnya asam empedu dan stasis biliaris. Pada sebagian besar kasus, batu empedu adalah asimtomatik dan hanya 10% mengalami gejala setelah 5 tahun. Batu empedu menyebabkan 3 kelainan utama: kolesistitis, kolik biliaris dan koledokolitiasis.

KOLESISTITIS
Impaksi batu empedu dalam duktus sistikus merupakan penyebab tersering dari kolesistitis. Penyebab yang lebih jarang mencakup infeksi primer misalnya Salmonella typhi atau Ascaris lumbricoides, trauma, pembedahan, kemoterapi dan TPN.

Gambaran klinis
Gejala: Nyeri kuadran kanan atas, seringkali dengan penyebaran ke bahu kanan, mual, muntah dan demam.

Tanda: Nyeri tekan kuadran kanan atas, nyeri tekan kandung empedu yang dapat diperlihatkan pada inspirasi (tanda Murphy), kandung empedu biasanya tidak dapat diraba dan ikterus pada sebagian kecil pasien.

Investigasi
- FBC biasanya memperlihatkan suatu leukositosis
- Sinar-X abdomen memperlihatkan batu radioopak pada sebagian kecil kasus dan kadang-kadang suatu sentinel- loop atau adanya udara dalam cabang-cabang biliaris
- US memperlihatkan batu kandung empedu dan penebalan dari mukosa
- Skaning radio-isotopik (HIDA; PIPIDA) berguna dalam menemukan obstruksi dari duktus sistikus.

Penyulit
Empiema, gangren dan perforasi kandung empedu, pankreatitis, abses perihepatik, piemia porta dan septikemi. Penatalaksanaan Mula-mula suportif dengan cairan iv, analgetik dan antibiotik, misalnya amoksisilin dan tobramisin. Kolesistektomi yang dilakukan setelah pasien stahil merupakan pengobatan terpilih walaupun waktu dilakukannya pembedahan yaitu kolesistektomi dini atau tertunda (interval) masih kontroversial dan bergantung pada kondisi dan usia pasien. Kolesistektomi perkutaneus dapat diindikasikan pada pasien yang sakit berat.

Pustaka
Diagnosis dan Terapi Oleh Peter C. Hayes, Thomas W. Mackay